BPBD Pacitan : Pentingnya Edukasi Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarkat

PACITAN – Kajian risiko bencana yang berbasis masyarakat akan meningkatkan kesadaran serta kewaspadaan masyarakat, menyiapkan masyarakat baik secara fisik dan psikologis terhadap kemungkinan bencana alam yang akan datang dengan merumuskan rencana aksi bersama, akan meningkatkan partisipasi masyarakat agar bekerjasama dan berkoordinasi saat sebelum, dan saat situasi tanggap darurat terjadi.hal ini untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan (BPBD),melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat daerah rawan bencana, adalah bentuk usaha dalam rangka memitigasi bencana terutama pada daerah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi. Kabupaten Pacitan, daerah dengan 12 Kecamatan, dan 159 Desa, secara geogerafis merupakan daerah dengan penduduk yang hidup di pengungungan dan pesisir pantai selatan,merupakan daerah dengan tingkat resiko tinggi bencana alam seperti tanah longsor, tanah ambles, gempa bumi dan tsunami.

Kegiatan edukasi bencana kepada masyarakat setempat merupakan langkah awal  kajian ancaman atau potensi bencana alam yang ada disekitar masyarakat baik dari jenis, tingkat risiko, frekwensinya waktu dan lamanya, wilayah yg terkena, serta perkembangan dan bahaya ikutannya.
tujuannya adalah agar masyarakat paham dan mengerti faktor- faktor yang memicu terjadinya bencana, untuk selanjutnya mereka dapat melunakkannya agar jika bencana terjadi masyarakat dapat meminimalisir korban jiwa maupun kerugian materi.

” kali ini kami BPBD dengan Unsur MUSPIKA Kecamatan Bandar dan Kecamatan Nawangan, melakukan kegiatan edukasi dan sosialisasi penanggulangan bencana kepada perangkat desa setempat,harapannya para perangkat desa tersebut dapat memberikan materi yang didapat kepada warganya, sehingga kami bisa terus melakukan usaha pendampingan kemasyarakat terkait bencana.” kata Diannitta Agustinawati SE. Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Pacitan.

Kegiatan yang dilakukan di balai pertemuan Desa Jeruk ini dihadiri oleh sedikitnya 100 peserta, dari mulai perangkat desa se Kecamatan Bandar dan Nawangan, SATLINMAS, dan PUSTU Kesehatan Kecamatan. selain berbicara terkait kesiapsiagaan bencana, acara tersebut juga membahas materi terkait managemen pembangunan desa, dalam topik ini pemateri langsung diberikan oleh Kepala Dinas Pembangunan Masyarakat Desa, Sanyoto.

” Bagi masyarakat desa , terutama untuk perangkatnya, perlu diketahui bahwa pembangunan desa itu bukan hanya sebatas pada fisik saja (dalam hal ini pembangunan jalan, sarana umum DLL).namun pembangunan kwalitas manusia melalui pendidikan juga perlu ditingkatkan,bahkan penting, terlebih pengetahuan masyrakat terkait lingkungannya apalagi daerah dengan rawan bencana. jangan asal bangun rumah, jalan, fasum. itu baik, namun jika akhirnya harus selesai atau hancur terkena bencana seperti longsor terus mau apa? jadi harus benar -benar dikaji ,agar masyarakat selamat.” jelas Sanyoto di depan peserta edukasi.

Menambahkan pula pemateri ,Yaitu Arifin, Kepala Desa Sirnoboyo , Kecamatan Pacitan, dalam ulasannya, Arifin hanya bercerita terkait dengan testimoni bagaimana dirinya membangun dan mengajak masyarakatnya untuk serta merta sadar akan pentingnya mengetahui dan mengenali kondisi lingkungan.

” Sedikit cerita, awalnya susah mengajak ,masyarakat untuk sadar lingkungan, namun setelah mereka tahu manfaatnya, mereka justru berterimakasih, karena sekarang desa kami menjadi salah satu desa percontohan tangguh bencana, dan tentiu saja bebrapa bantuan dari pemerintah mengalir ke desa kami. ” ungkap Arifin dengan bangga.

Edukasi Penanggulangan  risiko bencana ini dilakukan untuk memahami pengalaman masyarakat dalam menghadapi bencana dan memampukan mereka mengembangkan strategi penanggulangannya melalui kearifan lokal, memahami sumberdaya yang tersedia dan digunakan dalam masyarakat untuk mengurangi risiko.  ini merupakan langkah penting dalam memilih strategi pengurangan risiko dan penguatan kemampuan komunitas. Merupakan suatu kesalahan bila kemampuan masyarakat diabaikan dalam perancangan program karena hanya akan menyia-nyiakan sumber dari luar yang sedikit dan belum tentu dapat di-aplikasikan, hingga pada gilirannya justru berpeluang meningkatkan kerentanan mereka.